Kesunyian yang melanda Stadion Amsterdam Arena pada Rabu 6 Februari 2013 malam menjadi pertanda akan terjadi sesuatu yang tidak beres terhadap tim nasional Belanda.
Betul saja. Saat pertandingan memasuki menit 91, seorang pemain mungil berkostum Italia bergerak dari ujung kotak penalti di sisi kiri pertahanan Belanda. Pemain bernomor punggung 2 itu secara mendadak melakukan pergerakan. Ia tahu bahwa Alberto Gillardino sedang membelakangi gawang dan punya kemungkinan besar melakukan kombinasi satu-dua dengannya.
Dengan gerakan amat cepat, pemain mungil ini menyodorkan bola kepada sang penyerang veteran. Tapi bukannya berharap Gillardino berbalik badan dan menyelesaikan serangan itu sendirian, si pemain mungil justru segera berlari masuk ke dalam kotak penalti, ke area kosong supaya Gillardino bisa mengembalikan bola.
Sang pemain mungil dengan rambut cepak itu kemudian menerima umpan pendek Gillardino, berhadapan dengan penjaga gawang Tim Krul, dan secara natural mengangkat bola ke atas tubuh Krul yang terlanjur menjatuhkan diri. Gol!
Para pemain Italia berlarian merayakan gol indah tersebut. Mereka berebut menyelamati sang juru selamat yang berhasil menghindarkan Italia dari kekalahan enam kali beruntun dalam rangkaian laga persahabatan mereka. Italia berhasil memaksakan hasil imbang 1-1.
Italia memang tidak menang, tetapi mereka berhasil selamat dari agresi spartan legiun muda Oranje yang tak kenal lelah membombardir kuartet pertahanan Azzurri. Ada dua pemain yang layak mendapat kredit tersendiri atas hasil tersebut.
Mereka adalah Gianluigi Buffon di bawah mistar, dan Marco Verratti di lapangan tengah — sang pemain mungil bernomor punggung 2 itu.
Siapakah Marco Verratti?
Demikianlah tanggapan surat kabar L’Equipe ketika Paris Saint-Germain memboyongnya dari Pescara musim panas 2012. Ya, siapakah Marco Verratti jika dibandingkan dengan nama-nama lain yang datang ke Parc des Princes musim panas itu? Zlatan Ibrahimovic jelas menjadi sorotan. Dua nama yang datang sebelum Ibra pun tak kalah mentereng: Thiago Silva dan Ezequeil Lavezzi.
Lalu siapakah Mario Verratti? Bisa apa dia di PSG yang sudah kebanjiran nama-nama besar? Pemuda (yang kala itu) berusia 19 tahun ini dihadapkan pada sebuah tantangan berat. Transfer ini bisa jadi pertaruhan kariernya di masa depan.
Pelatih PSG, Carlo Ancelotti sebelumnya memang tidak pernah memasukkan Verratti dalam rencana tim utamanya musim ini. Javier Pastore adalah prioritas utamanya. Di awal musim, Ancelotti berpikir keras bagaimana cara memaksimalkan potensi Pastore yang di musim lalu dianggap gagal menunjukkan kelasnya. Bagi Ancelotti, Verratti adalah masa depan. Perlahan tapi pasti, ia akan memoles Verratti sebagaimana ia melakukannya terhadap Andrea Pirlo (yang sebelumnya sudah diubah posisinya oleh Carlo Mazzone di Brescia) satu dekade silam.
Dua musim pertama Verratti di tim senior Pescara (2009/10 dan 2010/11) ia habiskan sebagai seorang trequartista. Namun, kedatangan Zdenek Zeman di musim 2011/12 memaksa Verratti beradaptasi dengan pola 4-3-3 Zeman yang tidak mengenal posisi trequartista. Oleh Zeman, Verratti diplot menjadi regista. Hasilnya, Verratti, bersama Lorenzo Insigne dan Ciro Immobile menjadi figur sentral promosinya Pescara ke Serie A musim ini.
Eksperimen Ancelotti atas Pastore ternyata tidak kunjung berhasil. Sedianya, Pastore akan ditempatkan sebagai salah satu dari anggota trio gelandang PSG bersama Thiago Motta dan Blaise Matuidi atau Clement Chantome. Dengan Motta-Matuidi/Chantome sebagai gelandang petarung, Pastore diharapkan mampu menjadi playmaker bagi tim paling dibenci di Prancis ini. Namun, bukan tempat Pastore untuk berada di sentral permainan. Ia lebih menikmati bermain sedikit ke depan, di dekat penyerang.
Melihat hal itu, Ancelotti mengalah. Namun, karena Pastore bergeser ke lini depan, lini tengah menyisakan satu spot kosong untuk posisi playmaker. Ancelotti tidak punya pilihan lain mengingat gelandang PSG lainnya adalah gelandang-gelandang yang lebih mengandalkan fisik. Pilihannya pun jatuh kepada Verratti.
Verratti segera menjadi pemain reguler di skuat ratusan juta dolar milik PSG. Hingga kini, ia telah bermain 23 kali untuk PSG (6 di antaranya sebagai pemain pengganti), baik di Ligue 1 maupun Liga Champions. Menjadi pemain reguler di tim penuh bintang pada usia semuda itu jelas merupakan sebuah capaian istimewa. Bukan tanpa alasan. Kemampuan mengoper Verratti yang di atas rata-rata memang menjadi pertimbangan tersendiri bagi Ancelotti. Situs WhoScored mencatat akurasi operan Verratti musim ini mencapai 89,8 persen.
Meski kerap dibandingkan, ternyata Marco Verratti tidak sepenuhnya mirip Andrea Pirlo. Verratti lebih merupakan jawaban Italia atas tiki-taka Spanyol yang dikomando Xavi Hernandez dan Andres Iniesta. Verratti lebih suka bermain dengan mengalirkan umpan-umpan pendek dan menciptakan kombinasi satu-dua di ruang sempit. Tubuhnya amat tangkas bergerak memanfaatkan celah-celah di lapangan permainan.
Verratti lebih taktis dibandingkan Pirlo walaupun hal ini bukan berarti ia tidak mampu untuk mengirimkan umpan lob extravaganza ala Pirlo. Assist briliannya sejauh 40 meter kepada Javier Pastore di pertandingan melawan Toulouse menjawab semuanya.
Marco Verratti adalah sebuah harapan. Ia sudah meraih lebih dari apa yang diraih Pirlo di usianya saat ini. Pertanyaan besarnya adalah, sampai mana ia akan berkembang? Memiliki Pirlo sebagai pembanding jelas merupakan pekerjaan berat bagi siapa pun. Verratti bisa saja menjadi jauh lebih hebat dibanding Pirlo, tetapi bisa saja ia justru mengalami kemandekan yang membuatnya gagal memenuhi harapan.
Hanya waktu yang bisa menjawabnya dan sembari menanti waktu yang akan datang, biarlah kita biarkan Sang Jenderal Kecil menemukan sendiri apa yang terbaik untuk dirinya.
Sumber : id.olahraga.yahoo.com




